Fatmah SKM, MSc – Anak Autis Sembuh

fatihah anak autis sembuh

Fatmah SKM, MSc
AKIBAT AUTIS REIHAN BARU BISA BICARA SETELAH BEROBAT PADA PAK JUANDA

Reihan lahir tanggal 28 Desember 1997 dengan tubuh yang sehat dan mon­tok. Bayi laki-laki, pu­traku nomor dua ini tum­buh besar dengan kelu­cu­an seorang anak. Men­je­lang usia satu tahun, ia  tam­pak hiper aktif, tak per­nah bisa duduk ma­nis, suka berputar-putar dan melakukan gerakan yang berulang-ulang. He­ran­nya sampai usia 2 ta­hun, ia belum mampu bi­ca­ra. Apa yang terjadi pa­da Reihan?

Sebagai orang tua, aku tak pernah mengira kalau reihan memiliki ke­lainan. Dia selalu bermain akrab dengan kakaknya, ber­can­da, berlari dan menikmati ke­gembiraan anak-anak ber­sama. Secara tidak sengaja, suatu hari ibu­ku melihat tayangan pepeng yang te­ngah memandu acara warna-warni, de­ng­an topik autisme. Ibuku menyimak de­ng­an teliti dunia anak-anak autisme, de­ng­an ciri dan kebiasaan yang ternyata ham­pir sama dengan reihan lakukan. Ibu mem­beri tahuku tentang kecurigaannya pada sikap dan perilaku reihan,  cucunya. Saat aku berkunjung ke rumah ibu, beliau meng­ungkapkan kecurigaannya. Aku sen­diri tidak begitu faham dengan prilaku rei­han, kenakalannya, sikapnya, semua ku­ang­gap sebagai ekspresi dunia anak.  Waktu itu raihan baru berusia 2 tahun, ma­sih belum terlambat untuk mengo­bati­nya. Namun untuk memastikannya, aku ha­rus cek ke dokter. Ibu penuh perhatian pa­da cucu-cucunya. Dibenak ibu saat itu je­las, reihan menderita autis.

Aku memutuskan untuk membawa re­i­han ke dokter psikiater terkenal di ru­mah sakit omni medical center kelapa gading. Ternyata untuk mengonsultasikan kon­disi reihan tidak secepat yang kuduga. Aku harus masuk daftar tunggu, saking ba­nyaknya pasien diperkirakan 4-5 bulan men­datang aku baru akan dapat pang­gil­an. Sambil menunggu waktu yang masih panjang, aku mengambil inisiatif untuk ber­obat dengan pijat refleksi pada bapak hen­dro di ragunan. Setiap hari sabtu aku ru­tin membawa reihan selama 4 bulan.

Semua bagian tubuh reihan di pijat se­la­ma setengah jam dengan minyak kelapa atau parem. Ada aroma cengkeh dan pala. Tubuh reihan yang telanjang berkeringat, konon katanya untuk mengeluarkan ra­cun-racun di dalam tubuh.

Setelah itu aku membawa reihan ke se­marang seorang teman memberi­ta­hu­kan  di jalan wologito semarang ada tabib yang bergelar dokter, dan menguasai supra natural. Mampu mengobati penyakit. Obat-obat yang dibuatnya merupakan ramuan dalam bentuk kapsul. Beberapa kali aku coba pulang pergi jakarta – yogya  untuk memulihkan reihan dari autisnya.

Tak pernah menyerah, di mana saja se­tiap kudapat informasi tentang pengo­bat­an autis, aku selalu mencoba untuk men­datanginya. Selanjutnya aku men­de­ngar di kawasan ciputat ada kyai yang me­lakukan pengobatan autisme. Tanpa me­nunda lagi aku segera membawa rei­han ke sana. Sistemnya sama, reihan ha­rus di pijat. Namun kali ini reihan di sim­pul­kan keliru, konon ada jin yang me­ngi­kutinya. Kesimpulan itu sudah di luar lo­gi­ka, maka kutinggalkan pengobatan itu.

BEROBAT KE PSIKIATER

Setelah menunggu hampir 5 bulan,  a­khir­nya tiba juga giliran Reihan untuk kon­sul­tasi ke Dokter Psikiater yang juga pe­ngurus Yayasan Autisme Indonesia. Saat kon­sultasi pertama itu. seusai dokter me­me­riksa Reihan, aku langsung saja me­lon­tarkan kata-kata, “ Anak saya autis ya Dok?”

“Benar, Reihan autis,” kata dokter te­gas. Meski jauh hari indikasi autis ada da­lam diri Reihan, tetapi aku tetap saja syok men­dengar pernyataan dokter. Sejak saat itu Reihan mulai mengonsumsi food su­ple­men dan berbagai obat untuk memu­lih­kan kondisinya. Kenyataan Reihan autis, sung­guh mengganggu ke stabilan emosi pe­ra­saanku. Batinku penuh dengan ge­jolak dan kecemasan memandang hidup Re­ihan hari depan. Aku kehilangan se­ma­ngat kerja, rasanya aku ingin berhenti be­kerja, dan lebih mengutamakan mengurus Reihan.

Selain berobat medis, aku meneruskan pe­ngobatan alternatif dan mencarikan tem­pat terapi yang tepat bagi Reihan. Aku se­gera memasukkan Reihan ke Yayasan Ibu Lilis di Ciputat. Anak-anak autisme perlu mendapatkan terapi agar ia terlatih untuk kepatuhan, mengenal gambar, me­nge­tahui aneka warna dan lain-lain. Rei­han kerap kali berontak, lalu mening­gal­kan bangku duduknya. Dibutuhkan kesa­bar­an ekstra untuk mendampingi Reihan. Bia­sanya Reihan diantar sopir, dan di­dampingi suster. Selama 3 bulan se­minggu dua kali raihan ke terapi.

Setelah 3 bulan tak ada kemajuan, aku mu­lai tidak sabar.  Reihan kuputuskan un­tuk terapi ke Yayasan Arrohmah di Jalan Angin Mamiri Depok. Yayasan ini khusus un­tuk terapi bicara. Reihan yang waktu itu su­dah berusia lebih 3 Tahun namun belum bisa bicara. Selama 1 jam, seminggu tiga kali sepanjang 1 tahun, Reihan belajar. Di­akui di sini Reihan mulai belajar mengu­cap­kan nama benda-benda dan lainnya. Mes­ki sudah maksimal, namun Reihan belum juga mampu bicara dengan baik, ucap­annya belum jelas dan sukar di pa­hami.

Aku segera  memindahkannya ke Kli­nik Anakku  di Cinere. Reihan yang sudah 5 tahun tak lebih seperti anak usia 2 tahun yang baru belajar bicara. Di yayasan klinik kita, Reihan belajar hampir 1 tahun, se­mi­nggu 2 kali. Ia melakukan fisioterapi de­ngan pemijatan refleksi untuk mening­kat­kan kemampuan motorik halus dan mo­to­rik kasar. Satu kali ia mengikuti terapi behavior, satu kali untuk fisioterapi.

Sungguh suatu perjalanan panjang yang melelahkan saat mengantar Reihan men­cari penyembuhan, belum lagi biaya yang harus di keluarkan, tenaga, pikiran, dan waktu semua kukorbankan untuk me­mu­lihkan Reihan. Tak ada artinya jabatan dan harta bagiku, dibandingkan kesem­buh­­an Reihan.

Setelah terapi di klinik kita, Reihan ku­pin­dahkan lagi ke Al fikri di Studio Alam De­pok untuk melakukan terapi behavior sa­tu kali seminggu. Di sini ada materi ke­mam­puan akademik. Selain melakukan te­rapi kepulihan, ia belajar menulis, mem­baca, matematika. Dalam ruangan ha­nya Reihan dengan satu guru pem­bimbing yang mengajar selama dua jam, se­lama 3 bulan belajar disitu.

BEROBAT PADA PAK JUANDA.

Reihan sudah berusia 6 tahun, dan aku me­masukkannya ke TK Lentara insan. Se­waktu mendaftarkan Reihan, psikolog Fitri Su­marlis menginformasikan ada ahli Toxo­plas­ma di Bogor yang dapat menyem­buhkan penyakit TORCH dengan ramuan Aquatreat Therapy. Ia memberikan alamat dan nomor telepon Prof.  Juanda. Aku lalu ber­usaha menelepon dan memperoleh pe­tunjuk. Aku harus melakukan uji darah di laboratorium. Saat itulah aku tahu, ter­nyata IGG dan Rubella Reihan tinggi.

Aku teringat saat hamil Reihan, 3 bu­lan, memang aku terkena rubela, dikenal cam­pak Jerman. Mungkin itu yang menja­di penyebab Reihan autis. Namun  yang ti­dak kupahami lagi, tubuh Reihan me­ngan­dung Zink, semacam logam dari jenis mercury. Sudah 2 kali,  helai rambut Re­ihan di periksa, hasilnya tetap sama. Re­ihan harus melakukan terapi biomedik un­tuk mengeluarkan logam berat dari tu­buhnya. Yang kuherankan dari mana mercury itu masuk ke tubuhnya. Logikanya ka­lau ibu hamil makan ikan yang mengan­dung mercury tentu kandungannya akan ter­cemar. Herannya, aku tidak banyak me­ngon­sumsi ikan, lingkungan yang kuting­gali cukup hijau di kawasan Depok jauh,  da­ri debu, dan polusi asap mobil, se­mu­a­nya tidak masuk akal.

Saat datang ke Prof.  Juanda, aku bersama  suami dan Reihan sempat men­de­ngar ceramahnya. Sungguh banyak ka­sus yang hampir serupa. Semua yang ku­de­ngar logis dan masuk akal. Sejak itu Re­i­han mulai minum Aquatreat Therapy se­la­ma 6 bulan. Dengan telaten, Setiap pagi sa­at perut kosong kuberi ia minum Aquatreat Therapy.

Setelah 8 bulan, Reihan kembali cek da­rah. Hasilnya rubella masih 4, CMV-nya ne­gatif. Jelas sekali perkembangan yang ku­lihat pada diri anakku sepanjang masa 8 bulan itu. Kemampuan bicaranya se­ma­kin baik. Dia bisa merangkai kata-kata dalam kalimat yang utuh. Lawan bicaranya mu­lai dapat berkomunikasi dengan baik. Ku­perhatikan lebih terinci lagi, kontak ma­ta Reihan mulai bagus. Bila diajak bicara,  dia mulai menatap dan menaruh perhatian pa­da lawan bicara. Perilaku hiperaktifnya mu­lai berkurang.

Selama ini perilaku hiperaktifnya me­mang sangat membahayakan. Dia suka naik di atas kursi, melompat, membanting pintu,  marah-marah dengan kadar emosi yang tinggi. Sulit sekali menaruh penger­tian pengendalian diri pada Reihan. Sering ju­ga aku bingung, pola pendidikan apa yang seharusnya kutanamkan pada Re­ihan.

Pendekatan yang keras atau lembut. Aku agak keras,  sementara ayahnya lem­but. Tapi kalau dikerasin dia semakin keras dan menantang. Ternyata Reihan ti­dak bisa dikerasi. Kalau dia marah, aku bisa me­nenangkan dengan cara merangkul atau dibentak yang keras. Dia akan me­mu­kul-mukul, namun kita harus sabar.

Sebagai manusia adakalanya aku BT, ter­tekan nyaris frustrasi. Sudahlah! Sea­da­nya Reihan, tak perlu lagi aku bersusah payah ke mana-mana untuk membuat dia nor­mal. Aku harus banyak mendekatkan diri kepada Allah, agar aku bersyukur, ka­re­na Allah memberi amanahnya padaku, mem­beri kepercayaan untuk membesar­kan Reihan. Di luar mungkin aku tampak te­gar, tapi di dalam down. Akhirnya aku  ber­pasrah dirimenerima takdir Ilahi de­ngan lapang hati.

Sekarang Reihan sudah duduk di TK.  Se­tiap pagi aku mengantarnya ke seko­lah­nya. Sekolahnya sejalur dengan kan­tor­ku di lingkungan Universitas In­do­ne­sia. Aku bersyukur memperoleh alamat dan pe­ngobatan Pak Juanda. Pertum­buhan ke­sehatan Reihan berlangsung ce­pat. Ter­nyata pengobatan Aquatreat Therapy mampu menyembuhkan anak yang autis []

One Response to Fatmah SKM, MSc – Anak Autis Sembuh

  1. henri maulana lensa says:

    Kami ingin tanya apakah bisa bayi umur kurang dari 1 thn di sembuhkan dari toksoplasma pak? Terima kasih.

Leave a Reply to henri maulana lensa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>